Aku, dikala gundah

Jendela terbuka
sayup-sayup angin ingin membawanya
sepoi-sepoi udara
menghembus kedalam ruangan
rasa dingin menyelimuti
rasanya seperti sekarat

bunyi guntur tak mau padam
saling bersahutan dilangit
gebyar cahaya kilat merasa berkuasa
teror mengguncang hati
gundah menggugah ketakutan
aku ketakutan

seiring rintik hujan itu
kutemukan siapakah aku
aku bertanya-tanya
aku hanyalah aku
tak kuketahui sejak dulu
bahwa dahulu aku begitu hebat
senyum kubiarkan melebar
hati penuh terang
penuh semangat, penuh gembira
aku, kini, setelah itu, berbeda

guntur, guntur semakin menantang, bersahutan
angin mengamuk kencang
kututup jendela dari segala ketakutan
kubiarkan hangat menghampiri hati
tak kusangka sudah separuh hari
aku bernafas dalam tenang

lalu, siapa lagi diriku kini
kuimajinasikan sejenak,
biar, orang tak akan mengenangku
kudengar suara-suara celotehan mereka
"dasar engkau yang tak berguna,
tolong aku, disaat diriku butuh saja,
uangmu adalah segalanya,
kamu hidup, kutanam dan kubesarkan
orang aneh, tetaplah aneh,
kamu bukan siapa-siapa
siapa kamu"
diluar nalar, aku bisa bertahan
mengarungi samudera hitam
gelap sunyi namun aku melewatinya

karena aku mampu, aku ada
dikala gundah selalu menyapa
aku selalu girang
akan kukubur segala-galanya
kubuang jauh, tanpa ada lagi tersisa

=============================================

Seorang Malaikat

Langit terbuka; sinar memancar
suara kedamaian terdengar
awan disekelilingnya
perlahan memudar

hangat terasa,
seorang putera manusia berbinar
matanya berlinang; pun hatinya terguncang
melengkungkan senyumnya
terpaksa ditariknya sukarela
menghela nafas sekuatnya
betapa riang suasana ini
seperti diterpa angin, kehidupan baru
damai, begitu segar
tenteram, bagai mimpi
syahdu nan merdu
telinga terngiang; hati senang

dia merasa,
penolong agungnya telah tiba
yang membawanya terbebas
dari kesengsaraan penderitaan dunia
membawanya terbang seperti burung
memejam matanya, menghirup udara murni
merasakan hembusan angin, tinggi diatas
merentangkan tangannya, bak sayap
menggerakkan badannya, berputar tanpa batas
membiarkan dia melihat bumi
menembus awan-awan pekat
begitu bebas

tak terasa,
sangat indah; begitu indah
seorang malaikat sejak sekarang
mengajakku, menarikku ikut bersamanya
meninggalkan kesedihan
membiarkan mereka meratapi
sejenak aku menolak
mataku tak pernah punya kuasa
tapi tetes-tetes air itu memaksa
perlahan, kecewa kurasa
aku tak bisa membahagiakan siapa saja
bahkan diriku
aku tak terbiasa menyenangkan mereka
terutama diriku
aku mungkin bahagia
seorang malaikat membimbingku
pergi secepatnya
pergi secepat-cepatnya
memudar dan melebur
bersatu bersama sinar cahaya

=============================================

3 Stanza kematian

Muda tua bersuara; berteriak berkuasa, sama
Si kecil dibiarkan tak kebagian
Yang kaya, mati perduli
Orang Miskin, menyusahkan
Manusia terpintar, membodohi
Yang terbodoh, pionir
Pria kehilangan cerdik
Wanita bertahtakan bunga, marah dilapisi darah

(continue...)